Minggu, 06 Agustus 2017

BERHITUNG DENGAN TUHAN



“Rumah kita kerampokan!”

“Kapan?”

“Baru aja.”

“Anak-anak?”

“Meraka baik-baik saja. Ada di rumah.”

 

            Rabu, 17 Mei 2017. Sebuah telepon yang meluluhlantahkan perasaan. Seketika, aku limbung mendengar kabar yang bahkan belum pernah terbesit sekalipun dalam khayalan.
           
Setelah kupastikan kebenaran berita itu dengan menelpon ke rumah, aku langsung bergegas pulang.  Ini adalah sebuah kenyataan yang harus segera kucerna, kutelan cepat-cepat, tapi lagi-lagi kumuntahkan. Akal pikiranku masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa kami dihadapkan pada sebuah permasalahan bernama Perampokan. Layaknya sebuah cerita dari mulut ke mulut yang sering kudengar, tapi tak disangka justru keluargakulah yang kini menjadi lakonnya. 

            Sesampainya di rumah, kudapati sulungku menangis ketakutan. Perlahan ia ceritakan secara acak apa yang baru saja dialami. Semampunya, sesuai nalarnya.

“Tadi, ada orang umi, masuk ke rumah kita, ke kamar umi,”katanya dengan sesenggukan.

Kudengarkan ceritanya dengan perasaan campur aduk tak karuan. Sungguh tak bisa kubayangkan, jika skenario yang terjadi melebihi ini. Jika sampai ada yang dilukai atau.. ah.. aku tidak sanggup membayangkan.

            Siang tadi, seorang lelaki masuk ke rumah tanpa permisi, lalu memperkenalkan diri sebagai saudara suami. Dengan lihainya ia berdalih akan memasang CCTV, mengancam asisten rumah tangga, lalu mengambil barang-barang yang ia kehendaki. Semua kejadian ini terjadi di depan mata anak-anakku, gadis kecil  berusia tujuh tahun dan empat tahun.

            Aku bersyukur anak-anak dan asisten rumah tangga kami baik-baik saja. Mereka jauh lebih berharga dari apa yang telah hilang. Aku benar-benar berusaha memastikan tidak ada seorangpun  merasa tertekan dan trauma berkepanjangan. Aku sekuat tenaga berusaha tegar, tanpa sedikitpun terlihat lemah. Berkali-kali kukatakan, “Mari kita jadikan ini sebagai pelajaran.”

.

Sisa hari itu berlalu dengan baik. Menyisakanku yang justru belum bisa mengobati diri sendiri. Terseok-seok mengatasi kesadaranku yang terguncang. Yang dengan susah payah berusaha menghapus tanya yang terbesit di dada. Tanya yang semestinya tidak muncul dari hati yang memiliki iman.

Mengapa ini terjadi padaku? Di rumahku dan di depan anak-anakku?

 

Kamis 18 Mei 2017.

            Sebuah surat panggilan tugas sudah terlanjur terbit dan harus dilaksanakan. Dengan langkah tertahan, siang itu aku harus melakukan perjalanan ke Ibu Kota. Perjalanan seorang diri dengan berkawan sepi, berbekal jiwa yang masih tertahan.

            Siang itu, mendung menggelayut di langit tak bertepi, mengubah biru menjadi kelabu. Di kabin pesawat yang riuh, aku memeluk sepi erat-erat. Memilih duduk menerawang menatap kumpulan  awan, berharap menemukan pelangi di sela-sela himpitan. Semua yang kualami terlalu cepat terjadi. Terlalu singkat pula kesempatanku untuk menyelesaikan, hingga terasa sesak di hati. Sesak yang kian pekat dengan menderunya mesin pesawat. Menyisakan gumpalan airmata yang sekuat tenaga ditahan dengan rapalan kalimat yang menyesakkan.

Semua ini pasti karena kesalahanku. 

            Kesadaranku dipaksa kembali, ketika aku harus meneruskan perjalanan dengan sebuah sedan putih berargo yang dengan lincahnya membelah jalan yang konon bebas hambatan. Aku menatap gedung-gedung yang mulai nampak berjajar menjulang tinggi, tapi justru membuatku merasa semakin tak berarti. Aku kembali sendiri, merenungi yang terjadi, dan menyalahkan diri sendiri.

            Akhir-akhir ini, Alloh SWT memberikan aku banyak ujian. Ujian yang mau tak mau harus aku lalui dan selesaikan. Aku mencoba berhitung, satu, dua, tiga, lalu ke angka belasan dan puluhan. Bahkan masih banyak yang belum berhasil terselesaikan, terabaikan bahkan ingin segera saja kulupakan. Aku kembali berhitung, dan mencoba memilahnya satu-persatu, mencari penyebabnya.  

Ya Alloh Yang Maha Pengasih, begitu banyak ujian yang Kau timpakan padaku.  

Inikah teguran dari-Mu atas keangkuhan dan dosa-dosaku?

            Tanpa kusadari, sosok yang berjuang melawan kemacetan di depanku mencoba menyapa. Kurasa, ia menyadari tatapan mataku yang sedari tadi hampa. Suaranya membuatku terhenyak. Aku lantas mentap sekeliling, dan kudapati kemacetan yang tersohor itu sudah mengepungku diam-diam di jalanan.

            Jalanan mungkin mulai tak ramah padanya. Liukan mobilnya mulai terasa menyentak, membuatku mulai mengalihkan perhatian. Sopir taksi yang bahkan aku tidak tahu namanya itu kembali mencoba menyapa. Kali ini kujawab sapaannya dan ia pun mulai langsung banyak bercerita tanpa kuminta. Seakan ia tidak memberikan kesempatan untukku kembali menarik sepi yang perlahan menghilang.

“Maaf ya mbak macet, bisa setengah jam kita disini mbak, padahal udah deket ini,”katanya sambil terus bermanuver. Mobilnya ia bawa ke bahu jalan. “Kalau nggak gini, enggak dapat jalan mbak,”lanjutnya.  

“Tiap hari seperti ini Pak?”tanyaku sambil memegang kursi erat-erat.

“Ya namanya juga Jakarta mbak, tapi ini yang bikin seru,”jawabnya sambil bersorak ketika dia berhasil mencuri jalur kendaraan di sebelahnya.

Aku ikut tersenyum diam-diam melihat caranya tertawa. Bahagianya sederhana.

            Dari ceritanya di sela-sela konsentrasinya beradu berani di jalanan, aku tahu tentang latar belakang hidupnya. Ia berasal dari keluarga asli Padang yang sederhana. Sejak lulus sekolah menengah atas ia sudah mengambil pekerjaan sebagai sopir, sopir pribadi awalnya sebelum akhirnya memutuskan menjadi sopir taksi. Barulah akhir-akhir ini ia mencoba mengadu nasib membuka bisnis berdagang pakaian.

            Ada yang lain dari caranya bercerita. Tidak ada keluhan, tidak ada keputusasaan. Bahkan kemacetan yang kami hadapi ini, ia ceritakan tanpa sedikitpun hujatan.

Ketika aku bertanya, “Kalau macet terus kayak gini, kaki pasti pegel banget ya pak?”

Ia menjawab dengan senyuman lalu berujar, “Ya kan setiap pekerjaan pasti ada ujiannya, buat bapak ini adalah bagian dari pekerjaan. Ya dinikmati aja. Kalau kita sabar, jadi ibadah.”

Mendengar jawabannya aku terlilit rasa malu, hingga tidak punya kalimat berikutnya untuk menanggapi.

“Apalagi bentar lagi Ramadhan, Bapak harus makin semangat,”ujarnya kemudian.

“Puasa di jalanan gini pasti lebih berat ya pak?”

“Ya kalau haus dan lapar ya sudah biasa, eh malah Bapak seneng kalau Ramadhan. Pas jam buka puasa kalau tidak ada penumpang, Bapak biasanya buka puasa di masjid,”jawabnya sambil tertawa.

“Takjil gratis ya Pak?”sahutku.

”Iya mbak, lumayan. Hemat.” Lalu kami pun tertawa bersama-sama.

“Wah mbak, alhamdulillah, dah mau sampai. Macetnya jadi nggak kerasa kan, kalau kita sambil ngobrol,” katanya sambil menoleh sesaat ke belakang.

Ah, bapak sopir yang sederhana. Gurat wajahnya menunjukkan ketulusan. Ia memandang dunia dengan logika yang mudah, tidak dipersulit dengan akal manusia sendiri.

“Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan.” (HR Abdu bin Humaid di dalam Musnad-nya(636) dan Al Hakim dalm Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624)

            Seketika aku kembali mencoba berhitung. Tapi bukan berhitung tentang seberapa banyak kesulitan yang akhir-akhir ini aku hadapi. Aku mencoba berhitung tentang seberapa banyak yang justru Alloh SWT telah berikan padaku. Aku mulai berhitung lagi tentang nikmat apa saja yang patut kusyukuri hari ini. Namun begitu memulai, aku terhenti. Bukan karena aku tak mampu melafalkan setiap urutan, tapi ternyata ini sungguh sulit dari yang kuperkirakan. Aku gagal.

            Aku tak mampu menghitung nikmat  membuka mata dan mencium aroma masam anak-anak pagi tadi. Tak mampu kujabarkan nikmat pelukan penuh kehangatan dari tangan-tangan mungil yang kulahirkan. Aku kembali menyerah mengingat haru saat menerima segelas air putih hangat yang disodorkan dengan tatapan penuh kecemasan.  Ah, sungguh aku malu telah mencoba berhitung tentang ujian dan kenikmatan dengan Alloh SWT.

            Bapak sopir di depanku telah memberikanku pelajaran dari caranya menaklukan kemacetan. Tetap berjuang walau berada dalam kesulitan. Meskipun kadang jalanan macet total tak bergerak, itu adalah petunjuk Alloh SWT bahwa saatnya kita harus berhenti sejenak, bersabar dan bertawakal, alih-alih mengumpat dan jatuh dalam keputusasaan. Di depan sana, dibalik keruwetan dan kemacetan yang menghadang, InsyaAlloh ada kebaikan yang Alloh SWT persiapkan.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal (segala puji bagi Alloh atas setiap keadaan)

****

Tidak ada komentar :

Posting Komentar