Rabu, 03 Mei 2017

BUAT KAMU, PUTIH ABU-ABU

Sumber foto : http://sumbar.antaranews.com/berita/147422/kelulusan-sma-pesisir-selatan-peringkat-pertama-sumbar.html


Kemarin, tanggal 2 Mei 2017 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, para siswa SMA dan SMK se-Indonesia merayakan kelulusannya mengenyam bangku pendidikan menengah atas.
“Selamat atas kelulusan kalian”.
Mendengar kabar tersebut pasti kita akan ikut tersenyum, turut merasa bahagia. Teringat pada masa itu,sebagian dari kita juga pernah merasakan kebahagiaan yang sama. Masa dimana bisa melihat ibu bapak tersenyum bangga.
Fiuh, tapi tidak sore kemarin. Bahkan sore-sore yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, saat pengumuman kelulusan diumumkan. Rasa turut bahagia luruh seketika saat melihat kalian, berkonvoi, lepas dan merasa bebas merajai jalanan kota. Baju putih abu-abu yang selama ini menjadi saksi perjuangannya, dicorat-coret begitu saja. Berwarna-warnai dan berpuisi-puisi.


Okelah, tentang baju-baju ini mungkin hendak dijadikan kenang-kenangan dengan tulisan dan tanda tangan dari teman-teman seperjuangan. Yang mungkin setelah pulang, hanya kalian simpan sembarangan lalu kalian lupakan. Kalian mungkin belum mengenal kata kesia-siaan, dan empati dengan orang lain yang bahkan membeli seragam saja tak mampu dilakukan. Hal ini, saya mencoba memaklumi.
 Tapi nak, saya sungguh menyayangkan cara kalian merayakan kelulusan. Berkonvoi tanpa arah dan tujuan, berteriak-teriak sepanjang jalan, dan mengganggu kepentingan para pengguna jalan yang lain. Semotor bertiga, berempat, bahkan tanpa helm, tanpa surat-surat yang lengkap, mengabaikan berbagai rambu lalu lintas, hanya makin membuat pengguna jalan yang lain, mengurut dada, bukannya menatap kalian dengan bangga.
Bukan satu-dua cerita, berbagai musibah kecelakaan terjadi semasa konvoi ini. Kalian yang semestinya berbahagia karena kelulusan, justru berbalik menjadi bencana. Ada asa orang tua yang membuncah lantas berubah dengan kecemasan dan kesedihan karena kecerobohan kalian. Jangan terlalu terlena dengan histeria kelulusan hingga kalian rasa jalanan ini milik kalian saja. Ada pengguna jalan lain yang juga menuntut hak selamat sepanjang perjalanan. Kalau kalian trtimpa musibah di jalanan, silakan hitung, berapa orang yang hanya akan menyalahkan dan menjadikan kalian kambing hitam.
Belum cukup kita bicara tentang kecelakaan, lalu merebak berita tentang tawuran. Ah, ketika rasa dan emosi meledak-ledak, siapa pula yang akan mengajak akal sehat dalam setiap tindakan. Ketemu rombongan musuh dijalan, salah senyum salah pula akhir cerita. Jangankan musuh bebuyutan, teman pun bisa jadi musuh dadakan di jalanan. Lalu akhirnya apa? Lagi-lagi tawuran.
Jalan cerita selanjutnya, uber-uberan dengan polisi, yang apes tertangkap, yang kalah badan babak belur gak karuan. Yang menang? Ah, tidak pernah ada yang menang dalam setiap tawuran. Setiap induvidu, sudah kalah, kalah melawan emosi dan kebodohannya.
Lalu lagi, baru disini dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat konvoi si kaya dengan mobil-mobil mewahnya. Duduk di tepian jendela mobil, dengan rambutnya yang tergerai bebas, berteriak pada siapapun yang ada dipinggir jalan. Kenal? Ah, memangnya peduli. Yang mobilnya bolong di bagian atasnya, tidak mau ketinggalan cerita. Berdiri, berdesakan, memamerkan muka, lalu berteriak histeris, tertawa-tawa, pada siapa saja. Itukah, generasi berpendidikan? Saya di pinggir jalan, cuma bengong. Menahan napas sejenak, lalu kembali bengong.
Sebenarnya, yang kalian rayakan itu bukan lah kelulusan kalian, nilai kalian yang memuaskan, tapi sebenarnya kalian bicara tentang kebebasan. Usai sudah masa-masa kalian harus terkungkung dengan aturan sekolah yang mengikat, tidak perlu berbaju seragam, setiap sekolah, dan yang kalian bayangkan adalah kehidupan masa dewasa yang menjanjikan. Padahal nak, kelulusan kalian dari bangku sekolah menengah atas, adalah awal mula perjuangan kehidupan kalian. Awal mula kalian akan menentukan jati diri dan akan jadi apa nanti. Selayaknya wujudkan rasa syukur dengan perilaku yang bermartabat. Perilaku yang menunjukkan kalian adalah penerus bangsa yang membanggakan.
Jadi, siapapun, tolong sampaikan, hentikan kebiasaan yang menyedihkan tentang histeria kelulusan. Kalian bukan membuat siapapun bangga. Bahkan kami, yang tak kenal dengan kalian, mengernyitkan dahi dan menatap miris pada perilaku kalian. Ah, tapi ya sudahlah, pastilah kalian tak akan peduli.





Tidak ada komentar :

Posting Komentar