Rabu, 01 Februari 2017

DARI PECINAN HINGGA BUDI RAHAYU


~~tulisan ini menjadi salah satu tulisan dalam buku MEMBACA MAGELANG #3 dengan edit seperlunya.


Minggu, 1 Februari 1987
Gemerisik suara rimbunan daun bambu di belakang rumahnya membuat semarak sibuknya pagi ini. Hari ini memang istimewa untuk perempuan muda yang kini sedang sibuk menyiapkan sayur lodeh untuk suami tercintanya. Sambil sesekali ditengoknya langit, ia  membisikkan doa agar cuaca cerah sepanjang hari.
 Kegembiraannya yang meletup-letup di rongga dadanya, diawali dari pembicaraan kecil dengan suaminya semalam. Tentang perlengkapan untuk kedatangan sang buah hati yang menurut dokter tinggal beberapa hari lagi, belum satupun dipersiapkan. Maka hari esok, dimana tabungan sudah lumayan terkumpul, adalah saat yang tepat untuk pergi berbelanja berbagai perlengkapan. Biarpun habis uang mereka hari itu, toh esok harinya lagi adalah saatnya uang gaji mereka dibayarkan. Cukuplah untuk biaya melahirkan nanti.
Ritual sarapan pagi itu dipenuhi tawa keduanya, Kadang riuh rendah, kadang pula  suara sang suami tergelak kencang.
Tak lama, bergegaslah mereka menuju rentetan pertokoan di pecinan kotaBelum pernah mereka berbelanja sebanyak itu sebelumnya, dan jika bukan karena beberapa lembar uang tersisa di dompet mereka, tidaklah mereka akan mengakhiri perjalanan mereka hari itu.

Sabtu, 15 Agustus 2009
Malas sekali rasanya aku beranjak dari tempat tidurku pagi ini. Padahal sinar matahari pagi ini cukup hangat menerpa wajahku menerobos melalui kisi-kisi jendela. Seharusnya hangatnya mampu membangkitkan semangatku menjalani hari. Tapi apalah daya sang mentari, kalau empunya badan saja justru segera menutup tirai rapat-rapat.