Selasa, 09 Agustus 2016

AKU, KAMU DAN STASIUN


Aroma ini mulai perlahan menggelitik memori yang sudah lama terkubur dalam ingatanku. Kuhirup dalam-dalam, hingga memenuhi semua rongga dalam tubuhku, membawa perasaan damai yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Yah, tempat ini memang pernah menjadi salah satu tempat terindah dalam hidupku. 
“Pa, dedek mau pipis,”kata anakku yang masih berumur lima tahun sambil menarik narik bajuku.  
Suara kecilnya yang khas membuyarkan lamunanku. Menarikku kembali ke alam nyata dengan kesibukan stasiun kota yang khas. Senyumku pun tak kusadari sudah mengembang begitu saja, melihat kaki anakku sudah melompat-lompat kecil.
“Iya sayang, yuk kita ke toilet,”ajakku segera.
Sesaat butuh beberapa waktu untukku mengingat kembali dimana letak toilet. Entah sudah berapa tahun aku tidak datang ke tempat ini. Sebuah stasiun kecil di kota selatan Jawa Tengah.  Ah ya, itu dia toiletnya. Ada di ujung ruang tunggu stasiun. Agak jorok memang, tapi mau bagaimana lagi,  putri kecilku sudah menarikku tidak sabar.
 Disanalah, dipojokan stasiun, dekat toilet, duduk termangu seorang wanita dengan pandangan menerawang. Pakaiannya yang lusuh membungkus tubuhnya yang kurus dan tak terawat. Tidak ada yang aneh dengan wanita itu, seperti halnya gelandangan  yang lain. Paling tidak begitulah penilaianku saat sekilas melihatnya. Tapi tatapan matanya seolah berkata lain. Pandangan matanya pasti menyentuh hati siapapun yang bisa merasakannya. Tatapan yang sendu dan meneduhkan, sungguh kontras dengan penampilannya yang kumal. Tiba-tiba tanpa sengaja pandangan kami beradu. Sedetik berikutnya senyuman kecil mulai menghiasi bibirnya dan perlahan tapi pasti berubah menjadi tawa yang menyenangkan.  Tawa terbahak-bahak hingga badannya terguncang, terguling-guling ke lantai. Hm, sedikit membuatku takut.
Segera setelah melihat putri kecilku keluar dari bilik kamar mandi, aku  menggandengnya pergi secepat mungkin.
***
Kakanda, aku masih menunggu di sini. Kenapa tak kunjung jua kau kembali? Apakah disana, di kota nan jauh itu, masih banyak urusanmu? Masih banyak yang harus kau selesaikan? Adakah banyak rintangan?
Kakanda, aku masih ingat janjimu untuk membawa kedua orang tuamu kesini, melamarku dan kita menikah di mushola kecil dekat rumahku. Bukankah itu rencana kita dulu? Membangun keluarga kecil dengan seorang putri.
Kakanda, jika teringat alasan kau pergi dulu, sakit itu terasa perih lagi. Tapi janjimu untuk kembalilah yang membuatku sanggup melalui waktu. Sanggup menerjang halangan sesulit apapun. Karena janjimu dan keyakinanku, bahwa kau akan kembali padaku. Aku tidak bisa menahan senyum ini untuk terbit, kala kenangan manis kita dahulu muncul kembali. Waktu itu kita masih muda, tapi kita sudah cukup dewasa untuk merancang kehidupan. Tetapi, karena orang tua kakanda ada di kota besar itu dan kakanda belum lulus kuliah disini, kita tidak bisa segera mewujudkan mimpi menuju pelaminan. Dan dengan segala daya, kubendung dan kusimpan rapi mimpi itu di hati.
Ah Kakanda, kau sudah terlanjur menanam bibit harapan di hatiku. Bibit yang setiap hari kau siram dengan asa. Maka,  setiap hari, setiap malam-malamku, bahkan di setiap helaan nafasku, tak henti-hentinya kurangkai impian menjadi pendamping hidupmu. Setiap malam  kuuntai asa untuk menjadi ibu bagi anak-anakmu. Maka demi mimpi itu, mimpi yang sudah begitu nyata di depan mataku, aku rela melakukan apapun untuk mewujudkannya.
Air mata ini  kini menetes melihat bayangan diriku saat ini. Salahkah jika hanya ini yang bisa aku lakukan? Duduk menunggumu disini? Kakanda, bukannya aku tidak mencoba menyusulmu ke sana, tapi petugas-petugas itu jahat padaku. Pasti kakanda akan marah  bila melihat  perlakuan mereka padaku selama  ini. Apalagi ketika mereka tahu aku diam-diam menyelinap di dalam gerbong kereta, pasti mereka akan langsung mengikat dan mengurungku. Padahal aku tidak bermaksud jahat, aku hanya ingin bertemu denganmu. Aku ingin menjemputmu. Aku ingin memelukmu lagi dengan mimpiku.
Rinduku padamu sudah hampir membunuhku. Menyesakkan dadaku setiap waktu. Semua pertanyaan tak terjawab ini mulai mengikatku. Mengikatku pada ruang kosong tak berpintu. Airmata mulai menetes semakin deras di wajahku. Biarlah menetes begitu saja, tanpa seorangpun mengusapnya. Aku rindu belaian tanganmu di wajahku. Aku merindukanmu….
 ***
“Pa, Mama mana? Kok lama ya?” gadis kecilku ini mulai berceloteh lagi. 
“Pa, kapan-kapan kita main lagi ya ke sini. Ketemu sama Om Agus. Om Agus itu lucu ya Pa, perutnya gembul,”kata anakku sambil tertawa.  
Aku mengangguk mengiyakan sambil kutatap mata anakku dalam. Mata bulat bening yang memancarkan kejujuran.
“Yah… Agus, kalau bukan karena kau menikah, mungkin aku tidak akan sampai di kota ini,”gumamku perlahan.
“Pa, mana Mama?”tanya putri kecilku sekali lagi.
“Itu Mama sayang,”kataku sambil menunjuk wanita cantik berjilbab ungu yang berjalan perlahan  ke arah kami.
Senyumannya, langsung menentramkan hatiku. Yah, wanita yang langsung kupilih sebagai pendamping hatiku kala melihat senyumannya. Senyum yang memperlihatkan ketulusan dan kebaikan hatinya. Senyum yang menjanjikan kedamaian.
“Duh, Mama lama banget sih, Papa sama Dedek sudah lapar berat dari tadi,” kataku menggoda.
“Sabar sih Papa ini, tadi di warungnya ngantri. Tapi, maaf ya, nasi bungkusnya cuma ada dua bungkus, di warung tadi sudah habis. Jadi, jatahnya hanya ada untuk mama dan dedek,” kata istriku.
“Benarkah?”tanyaku menyelidik.
Senyum jahilnya tiba-tiba muncul  dan kemudian ia meyerahkan satu bungkus nasi yang lebih besar dari dua bungkus sebelumnya.
“Tapi, mama bohong. Ini spesial buat Papa sayang,”
Sambil menerima nasi bungkus itu, kucubit kecil tangannya dan kamipun tertawa bersama. Ah wanita ini, bahkan pegal-pegal di kaki karena dari tadi menunggu kereta yang tak kunjung datang, sirna sudah hanya dengan tawanya. Inikah kekuatan cinta?
 *** 
Hentikan!!!!
Kututup kedua telingaku. Aku benci mendengar setiap kata, selain kata-katamu kakanda. Aku muak mendengar setiap tawa, selain tawa renyahmu. Bahkan aku mulai benci melihat wajah, yang selalu bukan wajahmu. Aku mulai muak melihat setiap bayangan, yang juga bukan milikmu.  Aku kesepian. Semua orang sudah meninggalkanku. Semua orang sudah menjauhiku, seolah mereka jijik melihat sosokku. Padahal aku hanya ingin mempertahankan cintaku padamu.
Maka hari ini, seperti setiap hari bertahun-tahun yang lalu, aku masih disini menunggumu kembali. Bahkan  hingga hanya bintang yang menemaniku setiap malam, aku akan selalu disini. Saat dingin mulai merusak persendian dan tulang-tulangku, akupun masih bertahan. Takkan aku melewatkan satu detikpun, aku takut kakanda tak bisa menemukanku. Aku khawatir kakanda akan bingung mencariku. Maka hingga detik ini, selama detak jantung ini masih berdetak, aku akan tetap disini.
 ***
Entah mendapat uang dari mana, gadis kecilku ini sudah menggenggam uang logam di tangannya. Hm, pasti hasil dia mengaduk-aduk dompet istriku tadi.
“Mah, ini uangnya buat mbak-mbak yang ada di pojokan itu ya, kasihan,” kata gadis kecilku sambil langsung berlari menghampirinya tanpa menunggu persetujuan dari kami. 
Mungkin karena selama ini kami tidak pernah melarang dia memberikan uang kepada pengemis di jalanan, maka saat melihat wanita yang sempat aku perhatikan tadi, nalurinya langsung bangkit.  Tapi kali ini lain, aku harus menghentikannya. Wanita itu sepertinya agak aneh. Sedari tadi, pandangannya tidak pernah lepas dari kami.

Aku segera berlari dan menarik tangan anakku  agar kembali ke tempat kami menunggu. Aku khawatir wanita itu akan menakuti atau bahkan menyakiti putri kami.
“Jangan Sayang, jangan dekat-dekat orang itu!” teriakku.
“Kenapa Pa?”tanya anakku heran sambil mengurangi kecepatan langkahnya.
Kugandeng kembali tangan kecilnya.
“Sayang, itu kan orang gila, Dedek mau nanti diculik orang gila?” kataku menjelaskan. Sesaat aku menoleh ke arah wanita yang kuyakini gila itu. Sesaat ada yang berbeda dari tatapannya. Tatapan yang langsung mencekik hatiku. Tatapan yang memperlihatkan kebahagiaan. Tapi tatapan itu justru menusuk tubuhku tajam…Menyayat.
Akupun memalingkan wajahku segera dan mempercepat langkah menjauhinya.
 ***
 Jangan sayang, jangan dekat-dekat orang itu?
Ih, sayang, itukan orang gila, Dedek mau nanti diculik orang gila?
Seketika itu juga, kalimat itu menyadarkanku dari lamunan panjangku selama ini. Kuangkat wajahku pasti. Seolah petir menggelegar di dalam kepalaku, menyadarkanku dari tidur panjang. Aku tidak perlu waktu lama untuk meyakinkan diri. Dan benar, itu dia, kakandaku, suara kakandaku, wajah kakandaku. Kakanda yang kunanti selama ini.
Kakandaku kembali!
Kakandaku kembali!

Ingin kuberteriak sekeras mungkin. Tapi entah disaat ini, mengapa suara ini tertahan di tenggorokan. Tertahan  oleh nafasku yang tersengal. Kebahagiaan yang terlalu tiba-tiba ini, sungguh menyesakkan jiwa. Ingin aku berteriak mengeluarkan semua yang ada didada. Jiwa ini tiba-tiba bergolak hebat, tidak mampu menahan semua rasa yang mambahana. Memenuhi semua ruang kosong yang telah lama diabaikan.
Kakandaku kembali. Kebahagiaan ini telah menjalar hingga ke seluruh tubuh, hingga raga ini tidak mampu lagi menampung segalanya secepat ini. Semuanya terlalu cepat. Sekali lagi aku mencoba berteriak memanggil namanya. Tapi sekali lagi suara ini hanya terdengar seperti hembusan nafas yang berat.
Tiba-tiba semuanya gelap.  
Sosok kakanda berputar hebat di dalam kepala, lalu perlahan kembali menghilang.
 ***
Aku menghela nafas lega ketika akhirnya kereta yang kami tunggu datang.  Suaranya yang lantang memutus mata rantai lamunanku. Sesaat aku merasa terhipnotis oleh tatapan wanita itu. Sungguh mengganggu hati dan mengusik perasaan.
Tatapannya mengingatkanku akan sosok gadis sederhana. Gadis asli kota ini yang dulu pernah kukenal. Gadis yang  mengisi masa mudaku yang belum memikirkan masa depan. Masa muda yang begitu ringan.  Masa muda yang belum memikirkan beban dan hanya menjalani kehidupan apa adanya. Ah masa itu adalah masa lalu.
Kupalingkan wajahku pada sesosok wanita yang kini mendampingiku. Ekspresinya menunjukkan keheranan karena aku tak segera beranjak dari tempatku berdiri. Perlahan tangannya yang lembut menyentuh  tanganku.
“Ayo Pa, sebentar lagi keretanya berangkat,” katanya perlahan.
Benar, inilah kenyataan. Sekali lagi, kutinggalkan bayangan wanita itu dari hidupku. Seperti bertahun-tahun yang lalu, di stasiun ini juga, ia dulu melepas kepergianku.
Ah, kenapa wanita aneh itu justru mengacak-acak kenanganku. Aku melangkah mantap. Sekali lagi aku menoleh ke arah wanita aneh itu. Matanya masih terus saja mengawasiku.  Aku menggeleng perlahan, “Bukan! Pasti bukan dia. Wanita gila itu, pasti bukan Lina,”gumamku.  Senyumku mulai mengambang,  aku  menertawai dugaan bodohku sendiri. Sesaat aku merasa bahwa wanita itu adalah Lina. Aku tertawa lebih lepas, “Bodohnya aku, Itu mustahil”.
Sudut mataku masih sempat menangkap sosoknya yang ambruk saat kereta ini mulai melaju. Kubiarkan sosok itu berlalu seperti butiran debu yang terbelah oleh deru kereta. Aku tidak mau tahu.
Kugenggam tangan istriku lebih erat. Meninggalkan kenangan  yang mulai kukubur kembali. Lega rasanya.
 ***
Kereta mulai melaju, perlahan tapi pasti. Meninggalkan seorang wanita kumal dan gila, tergolek pingsan di tempat yang sama, dipojokan stasiun kereta. Seperti biasa, dia ada, tapi tak ada yang menganggapnya ada. Namun kali ini ada  yang tidak biasa, wanita itu tersenyum dalam ketidaksadaranya. Paling tidak, dia akhirnya menemukan kebahagiaan, walau mungkin semua sudah terlepas lagi dari genggamannya.
**********

                                                                                                                        Wien-Mei 2011

Tidak ada komentar :

Posting Komentar