Rabu, 30 Oktober 2013

Pingsan... oh Pingsan





Hari ini tepat hari Oeang Republik Indonesia yang ke 67, dan entah harus dibilang durian runtuh atau dapat musibah, saya terpilih sebagai peserta upacara. Bahkan sebelumnya, saya mendapat nota dinas sebgai pembaca naskah “Detik-detik mengenang beredarnya ORI”, tapi alhamdulillah tugas saya sudah digantikan oleh teman-teman dari BC.
Terus terang rasanya berat mengikuti upacara ini, bukan karena masalah jiwa patriot ya... tapi kondisi fisik memang tidak bisa berdiri terlalu lama di bawah sengatan sinar matahari. Begitulah, jadi ketika sudah satu jam bertahan dibawah terik matahari, akhirnya saya menyerah juga. Saya mundur dari dari barisan dan beristirahat di lobi ruangan. Setelah melalui waktu puluhan tahun, saya akhirnya menyadari alarm daya tahan tubuh saya. Jadi seandainya tadi pagi saya paksakan, maka hampir dapat dipastikan tubuh saya akan tumbang.  Pingsan lebih tepatnya.
Pingsan atau sinkop adalah suatu kondisi kehilangan kesadaran yang mendadak, dan biasanya sementara, yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Gejala pertama yang dirasakan oleh seseorang sebelum pingsan adalah rasa pusing, berkurangnya penglihatan, tinitus, dan rasa panas. Selanjutnya, penglihatan orang tersebut akan menjadi gelap dan ia akan jatuh atau terkulai. (sumber:wikipedia).
Anda pernah pingsan?
Semoga saja tidak. Karena sebenarnya pingsan itu tidak enak, baik perasaan sebelum maupun sesudahnya. Saya sudah sekitar 5 kali sepanjang ingatan saya mengalami pingsan.  Jadi, untuk pertanda bahwa tubuh ini akan pingsan, saya sudah paham. Tapi ya toh tetap pingsan juga. Hehe..
Saya banyak mencari tentang penyebab pingsan yang berulang-ulang saya alami, dan dari berbagai situs yang saya baca, saya rangkum  penyebabnya menjadi  2 jenis, yaitu karena adanya kelainan jantung, atau penyebab selain itu. Yang paling berbahaya adalah karena adanya kelainan jantung, karena hal ini memperbanyak risiko kematian menjadi 2 kali lipat dibandingkan orang yang tidak pernah pingsan.  Tapi karena dalam keluarga saya tidak ada riwayat penyakit jantung, saya menyingkirkan penyebab pingsan dari golongan ini.
Penyebab kedua adalah selain jantung, diantaranaya adalah mekanisme vasovagal (vasovagal syncope) atau disebut neurocardiogenic syncope. Prosesnya terjadi akibat stimulasi berlebihan dan keliru dari sistem saraf vagus (saraf ke-10), yang mengakibatkan respon penurunan tekanan darah secara tiba-tiba dengan atau tanpa berkurangnya frekuensi denyut jantung. Ciri-cirinya adalah pingsan yang berulang-ulang, terdapat episode kepala terasa ringan, pandangan kabur dan mual muntah 1-2 menit sebelumnya mengarahkan pada pingsan jenis ini. Contohnya pada kondisi stres emosional, nyeri yang sangat, berdiri terlalu lama, aktivitas di lingkungan yang terlalu panas, batuk, serta saat buang air kecil dan besar.
Selain itu, karena faktor psikologis, yang juga ditandai dengan penurunan kadar gula darah, kekurangan oksigen, dan hiperventilasi yang ditandai napas cepat dan dalam yang biasanya berhubungan dengan faktor psikologis juga menjadi pemicu pingsan.  
Saya pribadi merasa sebagian besar pingsan saya disebabkan karena reaksi saraf vagus. Tapi walaupun saya sudah memahami penyebab pingsan saya, dan sudah mengenali pertanda tubuh akan segera pingsan, beberapa kali pingsan tetap tidak bisa dihindari. Beberapa pengalaman pingsan, yang saya ingat adalah:
1.    Pingsan pertama saya adalah ketika masih duduk di kelas 4 SD sepertinya. Pagi itu, saya bermain pasir di saat matahari pagi sudah mulai mendaki ke puncak tertingginya. Ditambah lagi saat itu saya belum sarapan pagi. Beberapa saat sebelum pingsan, tangan saya sempat tergores pisau, dan bukan luka yang parah saya rasa. Untuk menghentikan aliran darahnya, saya yang saat itu sedang berada di halaman, segera merendam jari-jari saya di dalam ember. Entah apakah itu penyebab saya pingsan, tapi sesaat kemudian, ketika saya berdiri di pintu samping rumah sambil memegang erat jari saya yang perih, tiba-tiba saya sudah tidak sadarkan diri. Saya tersadar ketika akhirnya Bapak mengangkat tubuh saya dari halaman rumah yang kondisi siang itu sedang becek.  Itu yang pertama sepertinya.
2.    Kejadian pingsan saya berikutnya adalah ketika masuk sekolah SMP di awal tahun ajaran. Saat itu ada masa orientasi untuk kegiatan pramuka yang diadakan pada sore hari. Entah apa yang membuat saya pingsan sore itu, yang jelas ketika dalam keadaan berbaris untuk latihan PBB, tiba-tiba saya pingsan. Tubuh saya jatuh bebas menghantam lapangan basket. Walhasil, wajah saya yang harus diadu dengan lantai semen dengan permukaan kasar, mengalami kekalahan telak. Bagian hidung dan dagu lecet dimana-mana.
3.  Berikutnya adalah ketika ada kegiatan upacara bendera memperingati hari Bhayangkara di Lapangan Alun-alun Kota Magelang. Saya bergabung dengan teman-teman pramuka perwakilan Kontingen Jambore Nasional dari Kota Magelang. Karena upacara yang sangat lama, dan seingat saya topi pramuka saya saat itu agak kesempitan, akhirnya saya tumbang juga.
4.    Pingsan saya yang keempat adalah ketika saya sedang melkaukan upacara bendera ketika masa SMP juga. Lebih tepatnya saat kelas tiga, karena setelah kejadian itu, guru matematika yang saat ini sudah almarhum, Bapak Totok, selalu memanggil saya Si Semaput* (pingsan dalam bahasa jawa).
5.    Pingsan saya berikutnya adalah ketika saya mengikuti Diklat Prajabatan di Pusdiklat PSDM yang berlokasi sama dengan STAN Jakarta. Saat itu pada hari pertama, selepas sholat subuh, kami dikumpulkan di lapangan untuk mengikuti kegiatan pagi yang dipimpin oleh instruktur dari Kopasus. Bukan karena tegang sepertinya yang membuat saya pingsan pada gerakan pemansan yang pertama. Tapi lebih pada peningkatan detak jantung yang terlalu cepat, dan membuat jantung saya tidak kuat. Kebayang lah, baru bangun tidur, dalam kondisi masih setengah sadar, sudah disuruh lompat di tempat sebanyak 30 kali. Langsung ambruk lah saya pada gerakan pemanasan yang pertama itu. Tapi berkat kejadian itu, setiap ada kegiatan fisik yang agak berat, saya selalu mendapatkan dispensasi.
5 kali pingsan ini disebut banyak atau nggak ya? Tapi kalau pagi tadi saya jadi pingsan, itu adalah rekor saya untuk 6 kali pingsan (kalau tidak salah). Alhamdulillah untuk pagi tadi dapat diantisipasi segera ya...dari pada saya nampak memalukan dengan pingsan di lapangan upacara. Bagaimana tidak memalukan, karena setiap kali saya pingsan, saya tidak bisa pingsan dengan kondisi yang anggun menawan. Tidak seperti adegan-adegan di sinetron yang adegan pingsannya dilakukan dengan anggun dengan kondisi jatuh menyamping atau jatuh terkulai. Kalau saya pingsan, pasti langsung jatuh ke arah depan, dengan konsekuensi muka akan beradu dengan landasan pendaratan. Dan badan jatuh begitu saja ke bawah, dengan kondisi langsung menyerah pada gravitasi, tanpa ada adegan lemas, atau terkulai dulu. (Hasil wawancara dengan saksi mata. ^^). Overall, semoga pingsan-pingsan ini bukan pertanda buruk terhadap kondisi fisik saya. Yang jelas, saya tidak bisa berdiri terlalu lama di bawah terik matahari.

NB: Ngomong-ngomong nih, saya masih ragu juga, kok dalam ingatan saya, saya udah pingsan 7 kali, tapi yang keinget kejadiannya cuma 5 kali. Hmmm....

2 komentar :

  1. mungkin yang ketujuh...pingsan karena terlalu bahagia saat mengetahui pria yg menawan itu telah menjadi suaminya sekarang...hihihih

    BalasHapus
  2. dadi koe wingi iku semaput tenanan to ndah?

    BalasHapus