Senin, 12 Maret 2012

Menulis Berita Rilis



Menulis Berita Rilis



oleh : Pepih Nugraha (Redaktur Pelaksana Kompas.com dan pendiri Kompasiana.com)


BASIc 1
Bukan “press kit” yang indah. Bukan karena punya juru bicara jempolan. Bukan karena mampu menyewa perusahaan PR terbesar di dunia
Yang  diperlukan:     You need to think like a reporter
Apa artinya? 
Mampu memisahkan dengan tegas berita yang sebenarnya tentang perusahaan dari hal-hal yang sifatnya promosi    
Mampu memberikan sudut padang cerita tajam yang menarik perhatian membaca     
Mampu memberikan sudut pandang ini dengan cara yang profesional namun tetap santun
BASIc 2 (tempatkan jurnalis sebagai sosok penting)
Mengembangkan cerita dari sudut pandang wartawan, bukan pemilik bisnis (departemen)
Membebaskan diri cara-cara klise, berlebihan, dan promosi/iklan   
Menggunakan etiket yang tepat ketika menghubungi wartawan atau editor
Apa artinya?
    1.Pelajari dan ikuti gaya bahasa media yang jadi target pengiriman
    2.Tulislah siaran pers dengan gaya media tersebut
    3.Pilih judul yang positif (aktif), bukan pasif
    4.Paragraf pertama (lead) harus jelas dan ringkas (ingat 5W1H)
    5.Gunakan bahasa jurnalistik –ringkas dan lugas, kalimat dan paragraf pendek-pendek, hindari anak kalimat
    6.Tulislah fakta dan data, bukan opini
    7.Ketiklah hanya pada satu sisi kertas
    8.Beri tanggal 
    9.Cantumkan nama kontak dan nomor telepon bagian akhir naskah  
   10.Gunakan kertas surat resmi dan cantumkan “Siaran Pers” di bawah logo/sebelum naskah

Pelajari kebijakan editorial, frekuensi penerbitan, tanggal/tenggat terbit, deadline, daerah sirkulasi, serta jangkauan dan segmen pembaca
 Contoh press rilis yg saya tulis dalam workshop.



                                      DJP tidak bisa memberikan sanksi atas kasus DW

        Jakarta (14/02).Direktorat Jendral Pajak mulai angkat bicara mengenai pemberitaan media yang begitu keras atas kasus yang mencoreng kembali namanya.  Kasus Dhana Widyatmika yang mencuat ke publik, dan menjadi headline news akhir-akhir ini ditanggapi dengan tenang oleh DJP. Sebagai institusi yangcukup tercoreng namanya, DJP menganggap ini sebagai salah satu cara untuk memperbaiki diri.

        Akan tetapi, Ditjen pajak, Fuad Rahmani dalam pernyataannya di Kantor Pusat DJP Kamis (24/2) lalu, “Apabila DW memang terbukti bersalah dalam masalah ini, DJP tidak bisa memberikan sanksi kedisiplinan terhadap DW, karena saat ini DW telah berada di bawah naungan Pemda DKI.

        Fuad juga menambahkan, “DJP hanya bisa memberikan sanski kedisiplinan bagi DA istri DW jika memang terbukti bersalah. Masalah pembuktian, DJP menyerahkan sepenuhnya kepada kejaksaan dan menyatakan tidak akan melakukan intervensi.”

      Direktorat Jenmdral Pajak merasa bahwa kasus ini merupakan salah satu cara dalam pembenahan diri DJP. DJP mendukung setiap upaya perbaikan demi keberhasilan proses reformasi. Fuad kembali menjelaskan,” DJP punya Whistle Blower. Sekarang masyarakat bahkan sesama petugas pajak, apabila menemukan petugas pajak yang menyalahgunakan kewenangannya, bisa langsung dilaporkan kepada pihak yang berwenang. Dalam hal ini kepada atasan langsung pegawai, atau bahklan ke pengaduan 500200. Silakan Laporkan.” 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar