Senin, 12 Maret 2012

DELAPAN “LARANGAN” DALAM MENULIS ARTIKEL MAUPUN KOLOM:

DELAPAN “LARANGAN” DALAM MENULIS ARTIKEL MAUPUN KOLOM:

1.    Jangan menggunakan akronim/singkatan, kecuali yang sudah sangat umum seperti DPR atau SD, SMP, SMU.
Contoh: DJP sebaiknya ditulis kepanjangannya Direktorat Jenderal Pajak, terutama jika ditulis untuk media umum

2.   
Jangan menggunakan istilah asing, jika istilah teknis itu memang dikenal dalam bahasa asing, tetap upayakan mencari padanannya dalam bahasa Indonesia, dan rendah hatilah untuk bertanya pada ahlinya. Jika kata tersebut sudah menjadi kata serapan,seperti kata “teror”, “positif”, maka itu sah saja. Kalau istilah teknis itu betul-betul

3.    Jika mengutip sumber dan sumbernya menguctarakan kalimat dalam bahasa Inggris, anda tetap menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, kecuali jika memang Anda ingin menunjukkan karakter sis umber (biasanya untuk tulisan feature dan profil).
        
4.    Jika sumber Anda membuat pernyataan/jawaban dalam bahasa Inggris yang tatabahasanya salah, atau mengucapkan istilah Inggris yang salah, anda harus tetap menulisnya dalam bentuk yang benar di dalam tulisan Anda.

5.    Hindari klise: kutipan klise (misalnya “alah bisa, karena biasa”); kata klise (“pasalnya, dia sudah tak betah mengerjakan pekerjaan itu”); akhir tulisan yang klise: (misalnya: “semoga. Begitulah.”).

6.    Jangan, sekali lagi, JANGAN berkhotbah di dalam tulisan Anda. Jangan menjelma menjadi orangtua atau pastur atau kiai. Jika pembaca ingin diceramahi moral, mereka akan ke masjid atau gereja atau rumah ibadah lainnya, bukan membaca tulisan Anda. Ada perbedaan antara  memberikan TIPS dan berkhotbah.

7.    Jangan menghakimi. Pembaca ingin merasa bebas berpikir saat membaca. Mereka haus informasi, tapi tak berarti mereka adalah anak remaja yang sedang kita evaluasi tingkah lakunya. Dalam tulisan, Anda melibatkan pembaca sebagai partner, sebagai kawan, bukan anak atau keponakan Anda.  Dengan kata lain: Anda harus selalu berasumsi pembaca Anda adalah orang-orang cerdas yang setara yang sedang Anda ajak berdiskusi.

8.    Hindari kalimat seperti , “kembali ke persoalan Gayus…”
Jika Anda merasa harus menulis “kembali ke persoalan tadi”, artinya tulisan Anda sudah berbelok dari fokus. Dengan kata lain, flowchart Anda sudah kemana-mana. Ulang penulisan Anda dari awal.

     LSC

Tidak ada komentar :

Posting Komentar